A.
Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata kerja to
manage (bahasa inggris) yang arti nya mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola.
Menurut para ahli:
1.
George R.Terry
Dalam bukunya Principles of
Management mendefinisikan bahwa manajemen adalah proses pencapaian tujuan
yang telah ditentukan sebelumnya melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang
lain.
2.
Harold Koontz dan C.O’Donnel
Dalam bukunya Principles of
Management, Analyses of Managerial Function mengatakan bahwa manajemen
adalah upaya mencapai tujuan organisasi melalui kegiatan orang lain.
3.
Henry Fayol
Dalam bukunya General and
Industrial Management, mendefinisikan bahwa manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengkomandoan, pengkoordinasian, dan
pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
ditentukan.
4.
John F.Mee
Yang menurut Dr.S.P.Siagian,MPA
dalam bukunya Filsafat Adminstrasi menyatakan bahwa manajemen sebagai
proses kegiatan perencanaan pengorganisasian, pemberian motivasi, dan
pengawasan dilakukan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
B.
Fungsi-Fungsi Manajemen
Dalam Manajemen terdapat
fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat
(4) fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan
(planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing)
dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat
pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi
perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada
untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.
Di bawah ini akan dijelaskan arti
definisi atau pengertian masing-masing fungsi manajemen – POLC :
1.
Fungsi Perencanaan / Planning
Fungsi perencanaan adalah suatu
kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.
2.
Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah
suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain
yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta
menggapai tujuan perusahaan.
3.
Fungsi Pengarahan / Directing / Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi
kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara
maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain
sebagainya.
4.
Fungsi Pengendalian / Controling
Fungsi pengendalian adalah suatu
aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian
dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
C.
Pengertian Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia atau biasa
disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung
dalam diri manusia
untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang
adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh
potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan
dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis
sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang
membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi,
para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi
sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam
industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya
sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.
Dewasa ini, perkembangan terbaru
memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal
atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah
baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM
dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat
dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga
bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai
investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka.
Pengertian manajemen sumber daya
manusia
MSDM adalah penarikan, seleksi,
pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan SDM untuk mencapai tujuan-tujuan
baik individu maupun organisasi.
Menurut Agus Suntoyo ( 2008, h 5),
Manajemen Sumber Daya Manusia dapat didefinisikan sebagai serangkaian
tindakan dalam hal pemikiran, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan
pengembangan sumber daya manusia-bukan sumber dayanya yang lainnya-untuk
mencapai tujuan, baik tujuan individu, maupun organisasi.
Sedangkan Manajemen Personalia (MP)
yang diperlukan untuk meningkatkan efektifitas sumberdayanya manusia dalam organisasi.
Tujuannya adalah untuk memberikan kepada organisasi suatu kerja yang efektif.
Untuk mencapai tujuan itu, studi tentang manajemen personalia menunjukan
bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, mengevaluasi, dan
memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan susunan keterampilan
(kualitas) yang tepat.
Manajemen Sumber Daya Manusia dengan
Manajemen Personalia jelas terdapat perbedaan didalam ruang lingkup dan
tingkatannya. MSDM mencakup permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan,
penggunaan dan perlindungan sumber dayanya manusia.
Sedangkan Manajemen Personalia lebih
banyak berkaitan dengan sumber dayanya manusia yang sudah berada dalam
organisasi (perusahaan). Tugas manajemen personalia adalah mempelajari dan
mengembangkan cara-cara agar unsur manusia dapat secara efektif diintegrasikan
kedalam berbagai unit organisasi guna mencapai tujuan dari organisasi itu.
Dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia adalah
suatu desain sistem yang formal di dalam suatu organisasi, untuk menjamin
tercapainya tingkat efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan dan penggunaan
kemampuan dan kompetensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajemen personalia dalam Hariandja
(2002) adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawaan
kegiatan-kegiatan pengadaan, pemberian kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai tujuan
organisasi, dan masyarakat.
“Human recources management in the
activities undertaken to attract, develop, motivate, and maintain a high
performing workforce within the organization”.
(MSDM dalam kegiatannya melakukan
penarikan,pengembangan, pemotivasian dan pemeliharaan tenaga kerja yang
berkinerja tinggi dalam organisasi).
Seperti yang menyangkut manusia
tidak ada definisi manajemen personalia, atau sekarang disebut manajemen sumber
daya manusia, yang telah diterima secara universal. Masing-masing penulis buku
teks tentang bidang tersebut membuat definisi yang berbeda atau dengan yang lain.
Berikut adalah uraian beberapa
pendapat tentang perbedaan MSDM dan Manajemen Personalia sebagai berikut:
Menurut Flippo dalam Handoko
(1987, h 3), manajemen personalia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan,
dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu,
organisasi dan masyarakat.
Menurut French dalam Handoko (1987,
h 3) mendefinisikan manajemen personalia
sebagai penarikan, seleksi, pengembangan, penggunaan, dan pemeliharaan sumber
daya manusia oleh organisasi. Mamajemen sumber daya manusia adalah penarikan,
seleksi, pengembangan pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk
mencapai baik tujuan-tujuan individu maupun organisasi.
Tujuannya adalah untuk memberikan
kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi
tentang manajemen personalia akan menunjukan bagaimana seharusnya perusahaan
mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi dan memelihara karyawan
dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.
Berikut ini adalah Hubungan Antara
Fungsi-Fungsi Personalia dan Kegiatan-Kegiatan Personalia:
D.
Fungsi-Fungsi Operasional SDM
Fungsi operasional dalam Manajemen
Sumber Daya Manusia merupakan basic (dasar) pelaksanaan proses MSDM yang
efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi/perusahaan. Fungsi
operasional tersebut terbagi 8 (delapan), secara singkat sebagai berikut:
1.
Perencanaan (Planning) adalah
proses penentuan langkah-langkah yang akan dilakukan di masa datang. Fungsi
perencanaan meliputi:
- Menganalisis pekerjaan yang ada
- Menyusun uraian pekerjaan
- Menyusun persyaratan pekerjaan
- Menentukan sumber-sumber penarikan SDM
2.
Pengadaan (Procrutment) adalah
proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan
karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Fungsi pengadaan meliputi:
- Mengumumkan dan menerima surat lamaran
- Melakukan seleksi
- Melakukan orientasi dan pelatihan pratugas
- Pengangkatan SDM
- Penempatan SDM
3.
Pengembangan (Development) adalan
proses peningkatan ketrampilan teknis, teoristik, konseptual dan moral karyawan
melalui pendidikan dan pelatihan. Fungsi pengembangan meliputi:
- Penilaian prestasi kerja
- Perencanaan karir
- Pendidikan dan pelatihan
- Pemberian tugas
- Mutasi dan promosi
- Motivasi dan disiplin kerja
4.
Kompensasi (Compesation) adalan
pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak langsung (inderct), uang atau
barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada
perusahaan. Fungsi kompensasi meliputi:
- Penggajian dan pengupahan
- Pemberian tunjangan-tunjangan
- Pangkat dan jabatan
- Pemberian penghargaan
5.
Pengintegrasian (Integration)
adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan
karyawan, agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling menguntungkan.
6.
Pemeliharaan (Maintenance) adalah
kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas
karyawan, agar mereka bekerja sama sampai pensiun. Fungsi pemeliharaan
meliputi:
- Pemeliharaan kebugaran fisik dan jiwa raga
- Pemeliharaan keamanan dan keselamatan kerja
- Pemberian jaminan perumahan
- Pemeliharaan kesehatan
- Pemeliharaan kesejahteraan rumah tangga SDM
- Pemeliharaan hubungan kerja dan hak asasi SDM
7.
Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk
menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma social.
8.
Pemberhentian (separation) adalah
putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahan. Dalam fungsi ini
manajer SDM mengatur hak-hak para pensiun yang dapat diberikan kepada mereka
yang telah berjasa besar terhadap perusahaan.
E.
Variabel-Variabel Lain yang Mempengaruhi Keberhasilan Organisasi
Dari uraian di atas dapat diketahui
selain keadilan dalam mengelola SDM keberhasilan organisasi juga di pengaruhi
oleh karakteristik organisasi, karakteristik pekerjaan, karakteristik individu,
sikap dan perilaku karyawan, secara langsung maupun tidak langsung.
1.
Karakteristik Individu
Karakter individu terdiri atas jenis
kelamin, tingkat pendidikan, umur, masa kerja, status perkawinan,, jumlah
tanggungan, dan posisi, peneliti peneliti dalam bidang manajemen SDM dan
perilaku organisasi banyak melakukan penelitian tentang hubungan
karakteristik individu dengan sikap dan perilaku karyawan
(panggabean,2001;2002).
2.
Karakteristik Organisasi
Karakteristik organisasi meliputi
kompleksitas , formalisasi ,dan sentralisasi kompleksitas mencerminkan jumlah
unit yang ada dalam organisasi formalisasi merujuk kepada banyaknya pelaksanaan
tugas yang bersandarkan kepada peraturan , sedangkan sentralisasi di
definisikan sebagai siapa yang dapat mengambil keputusan (pemimpin atau
pelaksana) sentralisasi ada jika keputusan di tangan pemimpin, sebaliknya akan
di katakana ada desentralisasi jika jawaban tentang apa, bagaimana, kapan, dan
dengan siapa pekerjaan akan dilaksanakan diputuskan oleh pelaksana semakin
banyak pertanyaan itu dapat di jawab sendiri oleh pelaksana maka semakin dapat
dikatakan ada desentralisasi, bagaiman pengaruh karakteristik organisasi
terhadap sikap dan perilaku karyawan banyak di lakukan oleh para peneliti di
bidang teori organisasi dan perilaku organisasi (Melcher 1976).
3.
Karakteristik Pekerjaan
Karakteristik pekerjaan terdiri atas
keanekaragaman tugas, identitas tugas, keberartian tugas,otonomi dan umpan
balik berbagai penelitian dalam bidang manajemen SDM dan perilaku
organisasi banyak meneliti hubungan antara karakteristik tugas dan
perilaku. Berikut dibahas pengertian dari masing masing konsep:
- Keanekaragaman Tugas
Merujuk kepada adanya kemungkinan
bagi karyawan untuk melaksanakan kegiatan , prosedur, dan bahkan peralatan yang
berbeda pekerjaan yang beraneka ragam biasanya di pandang sebagai pekerjaan
yang menantang karena mereka menggunakan keterampilan yang
- Identitas Tugas
Memungkinkan karyawan mengerjakan
sebuah pekerjaan secara menyeluruh sanagt terspesialisasi cenderung menciptakan
tugas yang rutin dan mengakibatkan seseorang hanya mengerjakan satu
bagian saja dari keseluruhan pekerjaan , hal ini menimbulkan adanya perasaan
tidak melakukan apa apa oleh karena itu dengan memperluas tugas tugas
yang dapat meningkatkan perasaan mangerjakan seluruh pekerjaan berarti
meningkatkan identitas tugas.
- Keberartian Tugas
Merujuk kepada besarnya pengaruh
dari pekerjaan yang di lakukan seseorang terhadap pekerjaan orang lain. Sangat
penting bagi seseorang untuk mempunyai perasaan melakukan pekerjaan yang sangat
berarti bagi perusahaan maupun masyarakat untuk itu adalah penting apabila
pemimpin memberitahukan di depan orang lain bahwa pekerjaannya sangat berarti
bagi perusahaan.
- Otonomi
Merujuk kepada adanya ide bahwa
karyawan dapat mengendalikan sendiri tugas tugasnya hal ini penting untuk
menimbulkan rasa tanggung jawab .cara yang umum di pakai adalah melalui
manajemen berdasarkan sasaran.karena dengan cara ini karyawan memiliki
kesempatan untuk menentukan sendiri tujuan pribadi dan tujaun kerjanya.
- Umpan balik
Merujuk kepada informasi yang
diterima oleh pekerja tentang seberapa baiknya ia melaksanakan tugasnya .
penelitian tentang hubungan karakteristik pekerjaan dengan sikap dan perilaku
organisasi banyak dilakukan oleh peneliti di bidang MSDM dan perilaku
organisasi
F. Sikap
Kerja
Didalam kamus bahasa Indonesia menjelaskan
sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian (Wjs.
Poerwadarminta,2002:944).
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492). Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492). Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Loyal adalah patuh, setia (Wjs.
Poerwadarminta, 2002:609). Dari pengertian diatas, kesimpulannya adalah suatu
kecenderungan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain. Apabila karyawan
bekerja pada suatu perusahaan, dan perusahaan tersebut telah memberikan
fasilitas – fasilitas yang memadai dan diterima oleh karyawannya, maka kesetiaan
karyawan terhadap perusahaan akan semakin besar, maka timbul dorongan yang
menyebabkan karyawan melakukan pekerjaan menjadi lebih giat lagi.
Fasilitas – fasilitas yang diterima
oleh karyawan sehingga karyawan mau bekerja sebaik mungkin dan tetap loyal pada
perusahaan, hendaknya perusahaan memberikan imbalan yang sesuai kepada
karyawannya. Semua itu tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan tersebut
serta tujuan yang ingin dicapai.
Untuk itu perusahaan mengemukakan beberapa cara:
Untuk itu perusahaan mengemukakan beberapa cara:
a. Gaji yang cukup
b. Memberikan kebutuhan rohani.
c. Sesekali perlu menciptakan
suasana santai.
d. Menempatkan karyawan pada posisi
yang tepat.
e. Memberikan kesempatan pada
karyawan untuk maju.
f. Memperhatikan rasa aman untuk
menghadapi masa depan.
g. Mengusahakan karyawan untuk
mempunyai loyalitas.
h. Sesekali mengajak karyawan
berunding.
i. Memberikan fasilitas yang
menyenangkan. (Nitisemito, 1991:167).
Sebab – sebab turunnya loyalitas dan
sikap kerja itu dikarenakan banyak sebab misalnya, upah yang mereka terima
tidak sesuai dengan pekerjaannya, tidak cocoknya dengan gaya perilaku pemimpin,
lingkungan kerja yang buruk dan sebagainya. Untuk memecahkan persoalan
tersebut, maka perusahaan harus dapat menemukan penyebab dari turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan pada prinsipnya turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan oleh ketidakpuasan para
karyawan. Adapun sumber ketidakpuasan bisa bersifat material dan non material
yang bersifat material antara lain: rendahnya upah yang diterima, fasilitas
minimum. Sedangkan yang non material
antara lain: penghargaan sebagai manusia, kebutuhan – kebutuhan yang berpartisipasi dan sebagainya (S. Alex Nitisemito, 1991:167).
antara lain: penghargaan sebagai manusia, kebutuhan – kebutuhan yang berpartisipasi dan sebagainya (S. Alex Nitisemito, 1991:167).
Indikasi – indikasi turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan antara lain
- Turun/ rendahnya produktivitas kerja.
Turunnya produktivitas kerja ini
dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja
yang turun ini dapat terjadi karena kemalasan atau penundaan kerja.
- Tingkat absensi yang naik.
Pada umumnya bila loyalitas dan
sikap kerja karyawan turun, maka karyawan akan malas untuk datang bekerja
setiap hari. Bila ada gejala – gejala absensi naik maka perlu segera dilakukan
penelitian.
- Tingkat perpindahan buruh yang tinggi.
Keluar masuknya karyawan yang
meningkat tersebut terutama adalah karena tidak senangnya para karyawan bekerja
pada perusahaan. Untuk itu mereka berusaha mencari pekerjaan lain yang dianggap
sesuai. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi selain dapat menurunkan
produktivitas kerja, juga dapat mempengaruhi kelangsungan jalannya perusahaan.
- Kegelisahan dimana – mana.
Loyalitas dan sikap kerja karyawan
yang menurun dapat menimbulkan kegelisahan sebagai seorang pemimpin harus mengetahui
bahwa adanya kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidak terangan dalam
bekerja, keluh kesah serta hal – hal yang lain.
- Tuntutan yang sering terjadi.
Tuntutan yang sebetulnya merupakan
perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan
keberanian untuk mengajukan tuntutan.
- Pemogokan.
Tingkat indikasi yang paling kuat
tentang turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan adalah pemogokan. Biasanya
suatu perusahaan yang karyawannya sudah tidak merasa tahan lagi hingga memuncak,
maka hal itu akan menimbulkan suatu tuntutan, dan bilamana tuntutan tersebut
tidak berhasil, maka pada umumnya para karyawan melakukan pemogokan kerja. (S.
Alex Nitisemito,1991:163 – 166).
Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini:
Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini:
- Angkatan kerja yang usianya di atas lima puluh tahun menunjukkan loyalitas yang tinggi pada organisasi. Mungkin alasan – alasan yang menonjol ialah bahwa mereka sudah mapan dalam kekaryaannya, penghasilan yang memadai, memungkinkan mereka menikmati taraf hidup yang dipandangnya layak. Banyak teman dalam organisasi, pola karirnya jelas, tidak ingin pindah, sudah “terlambat” memulai karier kedua, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan memasuki usia pensiun. Seperti yang terdapat dalam perusahaan UD. DUTA RASA, dalam perusahaan ini ada beberapa karyawan tetapnya adalah karyawan dengan umur sekitar 50an dan sudah bekerja cukup lama dalam perusahaan sedangkan para karyawan kontraknya adalah karyawan yang masih muda.
- Tenaga kerja yang berada pada kategori usia empat puluhan menunjukkan loyalitas pada karir dan jenis profesi yang selama ini ditekuninya. Misalnya, seseorang yang menekuni karir di bidang keuangan akan cenderung “ bertahan” pada bidang tersebut meskipun tidak berarti menekuninya hanya dalam organisasi yang sama. Karena itu pindah ke profesi lain, tetapi bergerak di bidang yang sama, bukanlah merupakan hal yang aneh. Barangkali alasan pokoknya terletak pada hasrat untuk benar – benar mendalami bidang tertentu itu karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang pernah ditempuh, bakat, minat, dan pengalaman yang memungkinkannya menampilkan kinerja yang memuaskan yang pada gilirannya membuka peluang untuk promosi, menambah penghasilan, dan meniti karir secara mantap.
- Tenaga kerja dalam kategori 30 – 40 tahun menunjukkan bahwa loyalitasnya tertuju pada diri sendiri. Hal ini dapat dipahami karena tenaga kerja dalam kategori ini masih terdorong kuat untuk memantapkan keberadaannya, kalau perlu berpindah dari satu organisasi ke organisasi lain dan bahkan mungkin juga dari satu profesi ke profesi lain. Di samping itu pula didukung oleh tingkat kebutuhan yang semakin lama semakin meningkat tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan yang cukup sehingga banyak para pekerja yang mencari pekerjaan lain yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari.
- Bagi mereka yang lebih muda dari itu, makna loyalitas belum diserapi dan kecenderungan mereka masih lebih mengarah kepada gaya hidup santai, apabila mungkin disertai dengan kesempatan “berhura – hura” Pada kenyataan sehari – hari banyak sekali terjadi kecurangan – kecurangan yang dilakukan oleh para karyawan yang umumnya mempunyai umur relatif muda hal itu juga dipicu oleh tingkat angan – angan yang tinggi, tetapi tidak diiringi oleh tingkat kerajinan yang tinggi dari dalam dirinya sendiri, oleh karena itu tingkat penganggguran semakin lama semakin meningkat (S. Alex Nitisemito, 1991:170-171).
G. Perilaku
Karyawan
Perilaku adalah tingkah laku yang
terdiri atas tingkah laku yang tidak dapat dari luar, misalnya keinginan untuk
pindah (intent to leave) dan ada yang dengan jelas dilihat dari luar,
misalnya perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran.
Dari teori dapat diketahui bahwa
ketidakpuasan atau kepuasan yang rendah akan meningkatkan perputaran tenaga
kerja dan ketidakhadiran. Konsep-konsep ini paling sering digunakan untuk
memahami semangat kerja karyawan (Talacchi, 1960). Berikut diuraikan cara
pengukurannya.
1.
Perputaran Tenaga Kerja
Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur perputaran tenaga kerja sudah pernah dbahas dalam bab sebelumnya
dimana datanya dapat diperoleh dari bagian personalia, namun karena untuk
memperoleh data dari masing-masing karyawan yang dijadikan responden dalam
penelitian pada umumnya sukar untuk diperoleh, maka untuk itu digunakan konsep
perilaku yang tidak langsung dapat dilihat yaitu keinginan untuk pindah (intent
to leave).
2.
Keinginan untuk Pindah
Keinginan untuk pindah dapat diukur
dengan mengembangkan pertanyaan yang dikemukakan oleh Hom and Griffeth, 1991;
1995; Motowildo, 1983, yaitu sebagai berikut.
- I have been thingking about quitting the present job.
- I have been evaluating the cost of quitting my job.
- I intent to quit.
- I will quit my job uin the next six months.
3.
Ketidakhadiran
Dari uraian sebelumnya dapat
diketahui bahwa ketidakhadiran adalah kegagalan untuk hadir ditempat kerja pada
hari kerja. Faktor-faktor penyebab perilaku ini banyak diteliti karena dapat
mempengaruhi prestasi kerja.
4.
Hubungan Ketidakhadiran dengan Kepuasan Kerja
Penelitian tentang hubungan
ketidakpuasan dengan ketidakhadiran adalah rumit. Pandangan tradisional
mengemukakan bahwa ketidakhadiran disebabkan oleh ketidakpuasan (Porter and
Steers, 1973), namun kemudian para peneliti mengemukakan bahwa ketidakhadiran
yang menyebabkan ketidakpuasan kerja (Goodman and Atkin, 1984; Rhodes and
Steers, 1990). Sehingga akhirnya ada pula yang mengemukakan bahwa hubungannya
timbal balik (Clegg, 1983) dimana ia berpendapat bahwa dengan menggunakan
beberapa pengujian yang berkelanjutan (few longitudinal test)
ditemukan bahwa ketidakhadiran lebih sering mempengaruhi ketidakpuasan dan
tidak sebaliknya.
5.
Hubungan Ketidakhadiran dengan Prestasi Kerja
Selain dengan kepuasan kerja,
ketidakhadiran juga mempunyai hubungan yang negatif dengan prestasi kerja. Bycio
(1992) mengemukakan bahwa ketidakhadiran dapat mengakibatkan rendahnya kinerja.
6.
Hubungan Ketidakhadiran dengan Gaya Kepemimpinan
John dan Nicholson (1982) mengemukakan bahwa
ketidakhadiran dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan terhadap ketidakhadiran
itu. Para pemimpin akan memberikan sanksi pada karyawan yang jarang masuk dan
akan mengurangi pemberian penghargaan kepada mereka.
7.
Pengaruh Karakteristik Individu dan Kerumitan Pekerjaan Terhadap Hubungan
Kepuasan Kerja dengan Ketidakhadiran, Prestasi Kerja dan Gaya Kepemimpinan.
Hubungan antara kepuasan kerja
dengan ketidakhadiran pada umumnya dapat dipengaruhi oleh karakteristik
individu, misalnya usia dan masa kerja (Nicholson, 1977), kerumitan pekerjaan
(House dan Mitchell, 1974), dan gaya kepemimpinan (Clegg, 1983). Gaya
kepemimpinan yang mendukung (supportive leadership) dapat menurunkan
ketidakhadiran bagi pekerjaan yang sederhana dibandingkan dengan yang rumit.
8.
Alat ukur yang Digunakan
Terlepas dari apakah sebagai
penyebab atau sebagai akibat, ketidakhadiran, sebagaimana halnya dengan
keinginan untuk pindah, konsep ini juga perlu diukur dengan sejumlah pertanyaan
jika data ketidakhadiran dari masing-masing responden sulit untuk diperoleh.
Hammer dan Landau, 1982; Harisson
dan Hulin, 1989 mengukur ketidakhadiran dengan menggunakan tiga macam data,
yaitu:
- Waktu yang hilang (jumlah jam ketidakhadiran yang tidak dicatat)
- Frekuensi (jumlah waktu ketidakhadiran yang tidak tercatat)
- Ketidakhadiran yang tercatat (jumlah ketidakhadiran), data yang dipakai adalah data selama 12 bulan.
H. Ruang Lingkup
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Berdasarkan definisi diatas, sebenarnya
dapat kita tarik kesimpulan mengenai ruang lingkup Manajemen Sumber Daya
Manusia menjadi suatu proses sistematik untuk membawa perubahan yang diinginkan
dalam perilaku karyawan dengan melibatkan hal-hal berikut ini :
- Perencanaan Sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh Organisasi atau Perusahaan (Human Resources Planning).
- Menganalisis Jabatan dan Pekerjaan, yaitu menganalisa
dan menjelaskan secara rinci tentang masing-masing pekerjaan atau jabatan
dalam perusahaan atau organisasi (Job Analysis).
Baca juga : Pengertian Analisis Jabatan (Job Analysis) dan Tujuannya. - Perekrutan dan Penyeleksian Karyawan atau Sumber daya manusia yang dibutuhkan tersebut sesuai dengan syarat, sistem, tata cara, prosedur dan proses yang ditentukan agar memenuhi kebutuhan organisasi baik pada masa sekarang maupun untuk masa akan datang (Recruitment and Selection).
- Memperkenalkan Latar Belakang Perusahaan, Budaya Organisasi Perusahaan, Nilai-nilai Perusahaan dan Etika Kerja kepada karyawan yang telah lulus seleksi serta memperkenalkannya kepada karyawan-karyawan lainnya. (Orientation and Induction).
- Pelatihan dan Pengembangan Sumber daya Manusia dalam organisasi (Training and Development).
- Penilaian prestasi dan kinerja karyawan untuk Melakukan Promosi, Demosi, Transfer dan Pemberhentian (PHK) terhadap Karyawan (Performance Appraisal).
- Perencanaan dan Pemberian Kompensasi atau upah (Compensation planning and remuneration).
- Memotivasi Karyawan, Memperhatikan Kesejahteraan, Kesehatan dan Keselamatan Karyawan (Motivation, Welfare, Healthy and Safety).
- Menjaga Hubungan dan melakukan komunikasi dengan Serikat Pekerja (Industrial relations).
Sumber :
https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-manajemen-sumber-daya-manusia-msdm-ruang-lingkup-msdm/
Faustino Cardooso Gomes, 2000, Manajemen
Sumber Daya Manusia, Cetakan Keempat, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.
Gouzali Saydam, 1996, Manajemen
Sumber Daya Manusia (Human Resources Management), Jilid 2, Cetakan Pertama,
Penerbit PT Gunung Agung, Jakarta.
T. Hani Handoko, Manajemen
Personalia dan Sumber Daya Manusia, BPFE, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar