SELEKSI
proses
pencarian karyawan untuk menyeleksi calon tenaga kerja yang dianggap memenuhi kriteria yang sesuai
dengan karakter pekerjaan yang dilamar.
·
Sasarannya :
membuat suatu
rekomendasi untuk menolak atau menerima calon tenga kerja berdasarkan suatu
dugaan tentang potensi-potensi dari calon tenaga kerja untuk berhasil dalam
bekerja.
Dalam proses
managerial ada suatu aktivitas kerja membuat suatu rekomendasi untuk menolak
atau menerima calon tenga kerja berdasarkan suatu dugaan tentang
potensi-potensi dari calon tenaga kerja untuk berhasil dalam bekerja.
Kegiatan ini
dikenal sebagai...
a.
penempatan
b. seleksi
c. rekomendasi
tenaga kerja
d. penilaian
calon tenaga kerja
e. penyaringan
tenaga kerja
·
Tugasnya :
mengevaluasi
sebanyak mungkin kandidat untuk menyaring dan memilih seseorang atau beberapa
orang yang paling memenuhi syarat kerja.
PENEMPATAN
menempatkan
karyawan pada bidang pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kompetensi yang
dimilikinya (pengetahuan, keterampilan dan keahlian).
·
Sasarannya :
membuat suatu
rekomendasi untuk mendistribusikan kandidat pada pekerjaan berdasarkan suatu
potensi-potensi yang dimiliki kandidat untuk berhasil pada pekerjaannya.
·
Tugasnya :
mengevaluasi
kandidat untuk dicocokkan antara kualifikasi yang dimiliki dengan persyaratan
yang sudah ditetapkan.
B.
PROSES SELEKSI
Proses seleksi adalah serangkaian
langkah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar diterima atau
tidak. Langkah-langkah ini mencakup pemaduan kebutuhan-kebutuhan kerja pelamar
dan organisasi. Dalam banyak departemen personalia, penarikan dan seleksi
digabungkan dan disebut Employment function.
Proses seleksi adalah pusat manajemen personalia. Analisa jabatan,
perencanaan sumber daya manusia, dan penarikan dilakukan terutama untuk
membantu seleksi personalia.
1. Masukan-masukan
seleksi
Para manajer personalia menggunakan
proses seleksi untuk mengambil keputusan penerimaan karyawan baru. Proses
seleksi tergantung pada tiga masukan penting. Informasi analisis jabatan
memberikan deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan standar-standar prestasi
yang diisyaratkan jabatan. Rencana-rencana sumber daya manusia memberitahukan
kepada manajer personalia bahwa ada lowongan pekerjaan. Akhirnya, penarikan
agar manajer personalia mendapatkan sekelompok orang yang akan dipilih. Ketiga
masukan ini sangat menentukan efektivitas proses seleksi.
Disamping itu, manajer personalia harus menghadapi paling
tidak tiga tantangan, yaitu tantangan-tantangan suplai, ethis dan
organisasional. Berbagai tantangan ini sering menjadi kendala proses seleksi.
2. Tantangan-tantangan
Suplai
Semakin besar jumlah pelamar yang
“qualified” maka akan semakin mudah bagi departemen personalia untuk memilih
karyawan baru yang berkualitas. Dalam kenyataannya, banyak lowongan jabatan,
seperti kebutuhan manajer profesional sekarang ini, sangat sulit dipenuhi.
Keterbatasan suplai tersebut menyebabkan organisasi tidak leluasa memilih calon
karyawan terbaik.
3. Tantangan-tantangan
Ethis (etika)
Penerimaan karyawan baru karena
hubungan keluarga, pemberian komisi dan kantor penempatan tenaga kerja, atau
karena suap, semuanya merupakan tantangan bagi pengelola organisasi. Bila
standar-standar ethis ini dilanggar, karyawan baru mungkin dipilih secara tidak
tepat.
4. Tantangan-tantangan
Organisasional
Proses seleksi bukan merupakan
tujuan akhir, tetapi prasarana dengan mana organisasi berupaya untuk mencapai
tujuan-tujuan dan sasarannya. Secara alamiah, organisasi menghadapi
keterbatasan-keterbatasan, seperti anggaran atau sumber daya lainnya yang
mungkin akan membatasi proses seleksi. Disamping itu, berbagai strategi,
kebijaksanaan dan taktik organisasi juga merupakan batasan-batasan.
Ø Langkah-langkah dalam peroses
seleksi
1. Penerimaan
awal
Proses seleksi merupakan jalur dua
arah. Organisasi memilih para karyawan dan para pelamar memilih perusahaan.
Seleksi dimulai dengan kunjungan calon pelamar ke kantor personalia atau dengan
permintaan tertulis untuk aplikasi.
Bila pelamar datang sendiri, wawancara pendahuluan dapat
dilakukan. Ini akan sangat membantu dalam upaya menghilangkan kesalahapahaman
dan menghindarkan pencarian informasi dari sumber tidak resmi (“jalan
belakang”).
2. Tes
peneriman (ujian)
Tes-tes penerimaan sangat berguna
untuk mendapatkan informasi yang relatif obyektif tentang pelamar yang dapat
dibandingkan dengan para pelamar lainnya dan para karyawan sekarang. Tes-tes
penerimaan merupakan berbagai peralatan bantu yang menilai kemungkinan padunya
antara kemampuan, pengalaman dan kepribadian pelamar dan persyaratan jabatan.
Agar tes dapat meloloskan para pelamar yang tepat, maka ia
harus valid. Validitas berarti bahwa skor-skor tes mempunyai hubungan yang
berarti (signifikan) dengan prestasi kerja atau dengan kriteria-kriteria
relevan lainnya.
Berbagai Peralatan Tes
Ada bermacam-macam jenis tes
penerimaan. Setiap tipe tes mempunyai kegunaan yang terbatas, dan mempunyai
tujuan yang berbeda. Secara ringkas, berbagai tipe tes dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Tes-tes Psikologis (Psychological Test)
Ø Test kecerdasan (intelligence test)
: Yang menguji kemampuan mental pelamar dalam hal daya pikir secara menyeluruh
dan logis.
Ø Test kepribadian (personality test)
: Dimana hasilnya akan mencerminkan kesediaan bekerja sama, sifat kepemimpinan
dan unsur-unsur kepribadian lainnya.
Ø Test bakat (aptitude test) : Yang
mengukur kemampuan potensial pelamar yang dapat dikembangkan
Ø Test minat (interest test) : Yang
mengatur antusiasme pelamar terhadap suatu jenis pekerjaan.
Ø Tes prestasi (achievement test) :
Yang mengukur kemampuan pelamar sekarang
2.
Tes-tes
Pengetahuan (Knowledge Tests)
Yaitu bentuk tes yang menguji
informasi atau pengetahuan yang dimiliki para pelamar. Pengetahuan yang
diujikan harus sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan pekerjaan.
3. Performance Tests
Yaitu bentuk tes yang mengukur
kemampuan para pelamar untuk melaksanakan beberapa bagian pekerjaan yang akan
dipegangnya. Sebagai contoh, tes mengetik untuk calon pengetik.
Selain harus feasible penggunaan tes juga harus fleksibel.
Hasil tes tidak selalu merupakan langkah pertama atau terakhir dalam proses
seleksi. Akhirnya, tes penerimaan hanya merupakan suatu teknis di antara
berbagai teknik yang digunakan dalam proses seleksi, karena tes hanya dapat
dilakukan terhadap faktor-faktor yang bisa diuji secara mudah. Hal-hal yang
tidak dapat diukur melalui pengujian mungkin sama pentingnya.
Wawancara seleksi
Wawancara seleksi adalah percakapan formal dan mendalam yang
dilakukan untuk mengevaluasi hal dapat diterimanya atau tidak (acceptability)
seorang pelamar. Pewawancara (interviewer) mencari jawab dua pertanyaan umum.
Dapatkah pelamar melaksanakan pekerjaan? Bagaimana kemampuan pelamar
dibandingkan dengan pelamar lain?
Wawancara mempunyai tingkah fleksibilitas tinggi, karena dapat
diterapkan baik terhadap para calon karyawan manajerial atau operasional,
berketerampilan tinggi atau rendah, maupun staf. Teknik ini juga memungkinkan
pertukaran informasi dua arah : pewawancara mempelajari pelamar, dan sebaliknya
pelamar mempelajari perusahaan.
Wawancara seleksi mempunyai dua kelemahan utama :
reliabilitas dan validitas. Bagaimanapun juga teknik wawancara penting
dilakukan dalam proses seleksi karena efektivitasnya dapat dipercaya dan
mempunyai fleksibilitas.
Proses Wawancara
Tahap-tahap proses wawancara meliputi persiapan pewawancara,
pengarahan atau penciptaan hubungan, pertukaran informasi, terminasi dan
evaluasi. Setiap tahap harus dijalani agar wawancara berhasil.
- Persiapan pewawancara. Kegiatan persiapan ini mencakup penentuan sasaran wawancara, pengembangan berbagai pertanyaan spesifik yang akan diajukan dalam proses wawancara, penetapan tipe wawancara dan format pertanyaan, serta pengenalan awal tentang pelamar dengan mempelajari blanko lamaran. Disamping itu, pewawancara harus mampu menjelaskan tugas-tugas pekerjaan, standar prestasi, upah dan tunjangan-tunjangan lain, dan bidang-bidang pekerjaan lainnya.
- Pengarahan. Setelah wawancara dimulai, pewawancara perlu menciptakan hubungan yang relaks dengan pelamar dan suasana yang “enak”. Tanda kondisi ini pewawancara mungkin tidak memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas tentang potensi pelamar.
- Pertukaran Informasi. Inti proses wawancara adalah pertukaran informasi. Untuk membantu menciptakan hubungan, banyak pewawancara mulai dengan bertanya kepada pelamar bila ada pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan. Ini menimbulkan komunikasi dua arah dan memungkinkan pewawancara mulai untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pelamar.
- Terminasi. Bila waktu wawancara yang tersedia habis, pewawancara perlu memberi isyarat bahwa wawancara akan segera diakhiri, dalam hal ini sekali lagi komunikasi non verbal sangat berguna.
- Evaluasi. Segera setelah wawacara berakhir, pewawancara harus mencatat jawaban-jawaban tertentu dan kesan-kesan umum mengenai pelamar. Penilaian ini dapat menggunakan catatan yang telah disiapkan secara standar. Penggunaan catatan atau daftar standar akan meningkatkan reliabilitas wawancara sebagai teknik seleksi.
Kesalahan-kesalahan Wawancara
Ada berbagai penyebab kesalahan atau perangkap dalam proses
wawancara. Kegagalan untuk mengatasi penyebab-penyebab kesalahan wawancara akan
menurunkan efektivitas wawancara. Berbagai bentuk kesalahan wawancara secara
terinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Halo Effect
Kesalahan ini terjadi bila pewawancara menggunakan informasi
terbatas tentang pelamar untuk berprasangka dalam evaluasi terhadap
karakteristik-karakteristik lain pelamar. Contoh, seorang pelamar yang
mempunyai senyuman menarik (apalagi kalau cantik atau ganteng) dan simpatik
diperlakukan sebagai calon unggul sebelum wawancara dimulai.
2. Leading Questions
Kesalahan ini akibat pewawancara mengirimkan telegram jawaban yang diinginkan dengan cara
memberi arah pertanyaan-pertanyaan wawancara.
Contoh : apakah
saudara setuju bahwa laba adalah penting ?
apakah saudara akan menyenangi pekerjaan ini?
3. Personal Biases
Kesalahan ini merupakan hasil prasangka pribadi pewawancara
terhadap kelompok-kelompok tertentu.
Contoh : “saya lebih menyukai personalia penjualan yang
berbadan tinggi”
“ada pekerjaan yang hanya pantas untuk pria dan ada pekerjaan yang hanya
pantas
untuk wanita”.
4. Dominasi Pewawancara
Kesalahan ini akibat pewawancara menggunakan waktu wawancara
untuk “membual” kepada pelamar, menyombongkan keberhasilan, atau melakukan
percakapan sosial.
Contoh : penggunaan waktu wawancara untuk menceritakan
rencana-rencana perusahaan, penggunaan waktu wawancara untuk memberitahukan
bagaimana pentingnya pekerjaan pewawancara.
1. Pemeriksaan
/ penilaian referensi
-Bagaimana tipe pelamar ?
-Apakah pelamar adalah pekerja yang dapat dipercaya ?
-Bagaimana sifat-sifat atau kepribadian pelamar ?
-Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, departemen personalia
menggunakan berbagai
referensi.
Personal references-tentang karakter pelamar-biasanya
diberikan oleh keluarga atau teman-teman terdekat yang ditunjuk oleh pelamar
sendiri atau diminta perusahaan. Bila referensi diserahkan secara tertulis,
pemberi referensi biasanya hanya menekankan hal-hal positif. Oleh karena itu,
referensi pribadi pada umumnya jarang digunakan.
Employment references. Mencakup latar belakang atau
pengalaman kerja pelamar. Banyak spesifikasi personalia bersikap skeptis
terhadap referensi-referensi tersebut, karena dalam kenyatannya organisasi
sangat jarang untuk mendapatkan referensi yang benar.
2. Evaluasi
medis
Proses seleksi ini mencakup pemeriksaan kesehatan pelamar
sebelum keputusan penerimaan karyawan dibuat. Pada umumnya, evaluasi ini
mengharuskan pelamar untuk menunjukkan informasi kesehatannya. Pemeriksaan
dapat dilakukan oleh dokter diluar perusahaan maupun oleh tenaga medis
perusahaan sendiri. Evaluasi medis memungkinkan perusahaan untuk menekan biaya
perawatan kesehatan karyawan dan asuransi jiwa, mendapatkan karyawan yang
memenuhi persayaratan kesehatan fisik untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, atau
memperoleh karyawan yang dapat mengatasi stress fisik dan mental suatu
pekerjaan.
3. Wawancara
atasan langsung/manajer
Atasan langsung (penyelia) pada akhirnya merupakan orang
yang bertanggungjawab atas para karyawan baru yang diterima. Oleh karena itu,
pendapat dan persetujuan mereka harus diperhatikan untuk keputusan penerimaan
final. Penyelia sering mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi kecakapan teknis
pelamar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pelamar tentang pekerjaan
tertentu secara lebih tepat. Atas dasar ini banyak organisasi yang memberikan
wewenang kepada penyelia untuk mengambil keputusan penerimaan final.
Komitmen para penyelia pada umumnya akan semakin besar bila
mereka diajak berpartisipasi dalam proses seleksi. Partisipasi mereka paling
baik diperoleh melalui supervisory interview. Dengan mengajukan serangkaian
pertanyaan, penyelia menilai kecakapan teknis, potensi, kesediaan bekerjasama,
dan seluruh kecocokan pelamar. Wawancara ini berguna sebagai suatu cara efektif
untuk meminimumkan pertukaran karyawan, karena karyawan telah dapat memahami
perusahaan dan pekerjaannya sebelum mereka mengambil keputusan untuk bekerja
pada perusahaan.
4. Keputusa
penerimaan
Apakah diputuskan oleh atasan langsung atau departement
personalia, keputusan penerimaan menandai berakhirnya proses seleksi. Dari
sudut pandangan hubungan masyarakat (public relations), para pelamar lain yang
tidak terpilih harus diberitahu. Departemen personalia dapat mempertimbangkan
lagi para pelamar yang ditolak untuk lowongan-lowongan pekerjaan lainnya karena
mereka telah melewati berbagai macam tahap proses seleksi.
·
Hasil seleksi dan umpan balik
Hasil akhir proses seleksi adalah orang yang diterima
sebagai karyawan baru. Bila masukan-masukan seleksi diperhatikan dengan seksama
dan langkah-langkah dalam proses seleksi diikuti secara benar, maka para
karyawan baru akan merupakan sumber daya manusia yang produktif. Dan karyawan
produktif adalah bukti paling baik suatu proses seleksi yang efektif.
Untuk mengevaluasi baik karyawan baru maupun proses seleksi
diperlukan umpan balik. Umpan balik ini mungkin mencakup informasi tentang
kepuasan karyawan, perputaran dan absensi, prestasi kerja, kegiatan serikat
kerja, atau sikap penyelia. Umpan balik yang konstruktif diperoleh melalui
diperoleh melalui serangkaian pertanyaan tertentu. Bagaimana karyawan baru
menyesuaikan diri dengan organisasi? Bersikap terhadap pekerjaan? Terhadap
karier dimana pekerjaan merupakan salah satu komponen? Dan akhirnya, bagaimana
karyawan melaksanakan pekerjaan? Jawaban-jawaban untuk masing-masing pertanyaan
tersebut memberikan umpan balik tentang karyawan baru dan proses seleksi.
C.
SYARAT-SYARAT SELEKSI DAN PENEMPATAN
Seleksi dan penempatan merupakan
serangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui apakah pelamar diterima
atau ditolak, atau jadi tidaknya penempatan pekerja pada posisi yang baru.
Efektifitas fungsi seleksi dan penempatan ditentukan oleh beberapa syarat
penting dan informasi yang dibutuhkan
Syarat-syarat yang dimaksud adalah
- Informasi analisis jabatan, yang memberikan diskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan standar-standar prestasi yang disyaratkan setiap jabatan;
- Rencana-rencana sumber daya manusia, yang memberikan informasi kepada manager tentang tersedia / tidaknya lowongan pekerjaan dalam organisasi;
- Keberhasilan fungsi rekrutmen, yang akan menjamin manager bahwa tersedia sekelompok orang yang akan dipilih
Tes validasi adalah penentuan
cakupan apakah suatu alat seleksi bersesuaian dengan syarat pekerjaan. Dimana
terdapat 3 strategi validitas, yaitu:
1. Empirical Validation,
ini
dikenal dengan keabsahan kriteria (criterion validation) yang menghendaki bahwa
suatu angka test dalam pengertian statistik dapat dikorelasikan secara
signifikan dengan unsur penting dari performansi kerja. Sehingga tes ini akan
memakan waktu dan uang dan dapa menjadi tidak praktis bagi organisasi yang
mempekerjaan sedikit orang pada suatu klas pekerjaan.
2. Construct Validation,
adalah tes yang mengidentifikasikan ciri-ciri psikologis atau ketangkasan yang dikaitkan dengan keberhasilan kinerja pekerjaan tersebut. Ini membutuhkan jasa konsultan yang valid dan independen. Dan tes ini merupakan metode pilihan untuk jabatan pemerintahan dalam rangka peningkatan produktifitas dan kejelasan harapan kinerja.
adalah tes yang mengidentifikasikan ciri-ciri psikologis atau ketangkasan yang dikaitkan dengan keberhasilan kinerja pekerjaan tersebut. Ini membutuhkan jasa konsultan yang valid dan independen. Dan tes ini merupakan metode pilihan untuk jabatan pemerintahan dalam rangka peningkatan produktifitas dan kejelasan harapan kinerja.
3. Content Validation,
tes ini menuntut adanya kualifikasi minimum yang logis yang dikaitkan dengan kewajiban dari jabatan yang akan ditempati, standar kinerja realistik, ketrampilan, pengetahuan sesuai dengan SKAs. Tes ini juga dapat digunakan untuk kriteria seleksi dan promosi dengan mengukur kinerja seorang pekerja.
tes ini menuntut adanya kualifikasi minimum yang logis yang dikaitkan dengan kewajiban dari jabatan yang akan ditempati, standar kinerja realistik, ketrampilan, pengetahuan sesuai dengan SKAs. Tes ini juga dapat digunakan untuk kriteria seleksi dan promosi dengan mengukur kinerja seorang pekerja.
F. METODE PENEMPATAN DAN SELEKSI
Dalam
proses seleksi adalah menetapkan kualifikasi minimal bagi suatu jabatan melalui
analisis jabatan ini berkaitan dengan metode-metode tertentu yang di untuk
mengukur kualifikasi-kualifikasi dari pelamar atau pekerja. Ada (9) metode yang biasanya digunakan, yakni:
1.
Tinjuan Data Biografis
Tinjuan mengenai pendidikan dan
pengalaman dari seorang pelamar, melalui
proses seleksi. Sekalipun pendidikan dan pengalaman bukan merupakan
kriteria yang penting, tetapi bisa digunakan untuk tujuan-tujuan penting lain.
2.
Tes ketangkasan
Tes ketangkasan tidak mahal secara
relatif untuk di laksanakan dan dicatat, dengan tingkat kepercayaan yang
tinggi.
3.
Tes kemampuan
Tes ini mengukur luasnya kemampuan
umum atau ketrampilan-ketrampilan yang berkaitan dengan tingkat kinerja
pekerjaan melalui empirical atau construct validation.
4.
Tes performansi
Semakin dekat test kemampuan
merangsang tugas-tugas pekerjaan dan konteks yang aktual. Test tersebut semakin
menjadi test performansi.
5.
Referensi
Referensi merupakan metode seleksi
yang penting, dipakai untuk memeriksa pendidikan dan riwayat-riwayat atau untuk
memperoleh keterangan tentang kepribadian atau ketrampilan pelamar.
6.
Evaluasi performansi
Evaluasi performansi sebelumnya
sering di pakai untuk menilai potensi bagi penugasan kembali atau promosi, atau
bahkan persyaratan bagi lowongan promosi tertentu.
7.
Wawancara
Wawancara-wawancara akan memberikan
kesempatan kepada organisasi untuk mengamati kinerja atau penampilan seorang
pelamar dan ketrampilan-ketrampilan antar perorangan, dan untuk menanyakan
hal-hal yang tidak di muat dalam from-from lamaran.
8.
Pusat-pusat penilaian
Pusat-pusat penilaian berusaha untuk
memperkenalkan beberapa pelamar dengan keadaan-keadaan kerja yang merangsang supaya menekankan
kinerjanya pada tugas-tugas yang berkaitan dengan pekerja.
9.
Masa percobaan
Masa percobaan memiliki faktor
validitas dan reliabilitas yang mungkin tinggi karena metode ini mengukur
kinerja aktual pada kerja.
·
Kendala Dalam Memilih Metode Seleksi Dan Penempatan
Beberapa kesulitan dan kendala dalam
memilih diantara kesembilan metode seleksi dan penempatan, yaitu:
1. Tingkat validitas yang berbeda dan
keterkaitan kerja yang berbeda;
2. Masing-masing metode mempunyai
tingkat reliabilitas atau kekonsistenan angka bagi seorang pelamar dibandingkan
waktu.
3. Metode tersebut mempunyai tingkat
biaya yang bervariasi, dari yang mulai tidak mahal hingga biaya yang sangat mahal.
4. Orientasi nilai (efiensi,
kepentingan, keadilan) dari sebuah organisasi juga mempengaruhi dalam pemilihan
metode seleksi dan penempatan.
KESIMPULAN
Seleksi adalah metode dan prosedur
yang dipakai oleh bagian personalia (perusahaan) waktu memilih orang untuk
mengisi lowongan pekerjaan. Dalam seleksi dan penempatan sangat ditentukan
syarat-syarat penting yang dapat menjadikan efektifitas fungsi seleksi dan
penempatan. Syarat-syarat yang dimaksud adalah informasi analisis jabatan, rencana-rencana
sumber daya manusia dan keberhasilan fungsi rekrutmen.
Dalam proses seleksi adalah
menetapkan kualifikasi minimal bagi suatu jabatan melalui analisis jabatan, hal
ini berkaitan dengan metode-metode tertentu untuk mengukur kualifikasi-kualifikasi
dari pelamar atau pekerja, dalam hal ini biasanya ada sembilan metode yang
digunakan yakni:
(1) tinjauan data biografis, (2) tes
ketangkasan, (3) tes kemampuan, (4) tes performansi, (5) referensi,(6) evaluasi
performansi, (7) wawancara, (8) pusat-pusat penilaian, (9) masa percobaan.
Dalam seleksi penerimaan pegawai
baru juga harus melalui tahapan-tahapan, langkah yang dapat ditempuh mulai dari
penerimaan awal, ujian, wawancara, penilaian referensi, evaluasi medis,
wawancara oleh manajer, pengambilan keputusan.
Setelah proses seleksi dilalui
langkah selanjutnya yaitu penempatan, dimana dalam hal ini seorang pegawai baru
akan ditempatkan pada posisi-posisi tertentu dengan tanggung jawab yang
tertentu pula. Penempatan ini tidak hanya berlaku bagi karyawan baru, tetapi
berlaku pula bagi karyawan lama.
Sumber
:
Hasibuan, Malayu S. P. Manajemen SDM, Jakarta : Bumi Aksara,
2007.
Handoko, Hani, Manajemen
Personalia dan SDM, Yogyakarta: BPFE, 2001.
Tulus, Moh. Agus, Manajemen SDM, Jakarta:
Gramedia, 1996.
Mathis, Robert L dan John H Jackson,
Manajemen SDM, Jakarta: Salemba Empat, 2001.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka, 1990.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar